#PelangiBukitKopiExtended #Chapter3 #Phase35

#PelangiBukitKopiExtended
#Chapter3
#Phase35

Suara riuh terdengar bergemuruh memenuhi areal tengah perkemahan, festival folklore hampir dipenghujung waktu, tiba saatnya pertunjukan musik tradisi sebagai perayaan penutupan acara. It is Reggae time.

Dari kejauhan Darin dan teman-temannya sibuk membenahi semua perlengkapan yang akan dibawa kembali ke kampus. Tenda yang menaungi merekapun siap untuk diturunkan. Alunan tempo khas musik dari Jamaica sudah memenuhi udara.

Chorus🎶

My world is ma warranty
Make you know seh that my love is my guarantee
And babygirl apparently
You never imagine what it is life if you par with me
I’m gonna take you to a place where the moon shines brighter
Love is in the air so let us hold on tighter
Take you away from those vandals and fighters
You are the one that I would always try fa

🎶🎶

Walaupun daun telinga Darin belum terbiasa dengan gaya bahasa musik reggae, ia nampak menikmati setiap detiknya. Dan yang membuat ia tersentak adalah suara yang terasa tak asing baginya. Dari tempatnya berdiri yang terhalang ranting pepohonan, iapun mengangsur langkahnya kedepan. Bukan lagu Unconditional Love by Gentlemen yang dinyanyikan dengan sangat indah yang membuatnya penasaran, namun suara penyanyi yang melantunkan bagian chorus itu membuatnya terkesiap.

“Dieses Lied ist fuer euch alle, besonders fuer meine suesse Darin.”
( this song is for all of you, especially for my sweet Darin)

“Awww…Benjamin..Benjamin!”

Para penontonpun bersorak dan mulai kasak-kusuk kanan kiri kalau-kalau nama yang disebutkan Benjamin ada di tengah-tengah mereka. Teman-teman Darin lansung terpana dan tidak menyangka kalau lelaki tampan berambut jagung bersuara seksi itu adalah kekasihnya Darin.

Darin sekali lagi tersentak dan terkesima. Ia sama sekali tidak tahu kalau Benji juga anak band.

“Benji..”

Suara lembut lirih mengalir dari bibir Darin, pipinya memerah.

“Just to hear her footsteps,
My heart beats wildly.
I thought I was crazy.
I think I am.”

Sebait puisi diucapkan Benjamin diakhir lagunya, kemudian ia turun dari panggung dan berjalan kearah tengah-tengah kerumunan dan berhenti tepat di depan Darin.

“Darin..Darin..bist du okay?”
(Are you okay?)

Suara Axel menyadarkan Darin dari lamunannya.

“Do you want to join us? Lets dance!”

“Ich bin okay. You go first, I will stay here a while.”

“Okay..gurls kommen Sie.”
(Girls..come on)

Axel dan yang lainnya segera berlalu dan bergabung ditengah kerumunan penonton dan bersatu dengan irama reggae.

Darin menyeduh kopi panas dan duduk tersandar, sesaat yang lalu ia tenggelam dalam lamunannya. Lagu yang baru saja selesai dibawakan oleh band fakultas membawanya ke fragmen suasana romantis antara dirinya dan Benji.

Terasa jelas bahwa is merindukan kehadiran lelaki itu. Beberapa bulan lalu sewaktu Darin mengunjungi temannya di areal perkemahan Heider Bergsee, ia belum menjadi bagian dari persiapan festival, namun hari itu menorehkan sejarah penting bagi romansanya.

“Benji..kamu pasti lagi di pesawat sekarang.”

Sambil membawa cangkir kopi di tangan kirinya, Darinpun berdiri dari sandaran duduknya. Ia mencoba menyatukan dirinya dengan suasana riuh sentakan musik.

“Benji..miss you.”

****

🌸🌸🌸🌸

#PelangiBukitKopiExtended #Chapter3 #phase33-34

#PelangiBukitKopiExtended #Chapter3
#phase33-34

“It strucks me when the wind blows, I thought it was you whispering near to my ear. I thought I must be crazy. I think I am.”

Sementara itu di tepian danau Heider Bergsee, angin musim gugur meniup lembut rambut panjang seorang perempuan yang tengah mengayuh sepeda. Sweater putih menyapa setiap sudut yang dilalui. Kabut pagi ini perlahan menipis seiring keluarnya bangau dari peraduan dan menikmati dirinya mengitari dingin dan beningnya air danau. Dedaunan rontok mengikuti irama angin, dahan diujung pepohonan berwarna pucat keperakan. Disela-sela besarnya pohon Oak, terselip pohon-pohon mungil Blueberry.

“Mhhh…bitter but fresh.”

Darin sengaja turun dari sepedanya dan memetik blueberry yang berwarna biru tua. Diujung buahnya yang bundar, ada tetesan embun yang melekat, hampir seperti serpihan es.

Setelah merapatkan syal tebal rajutan berwarna pastel, Darin meneruskan mengayuh sepedanya dan melewati tikungan menjauhi danau, didepannya ada jalan setapak yang dipenuhi dedaunan berwarna kemerah-merahan. Ada beberapa bench/tempat duduk yang terbuat dari kayu. Dibeberapa tanaman yang tumbuh besar, ada tulisan yang dipajang dengan tanda segitiga hijau tepat didepannya. Tanda tersebut mencantumkan familie dan species biologis dari tanaman yang notabene dilindungi.

Beberapa meter didepan, Darin bertemu dengan teman-teman sekampusnya. Mereka semua menuju camping site (areal perkemahan) yang luas. Sepeda tidak boleh dibawa masuk, harus diparkir di sebelah barat pos penjagaan. Minggu ini ada festival folklore yang akan di gelar di areal perkemahan. Ada beberapa perwakilan dari tiap-tiap universitas di North-Rhine Westphalia melingkupi Cologne, Düsseldorf, Dortmund dan Essen yang ikut berpastisipasi pada parade mini kesenian daerah.

Danau Heider Bergsee ini terletak sekitar 22 kilometer dari Cologne. Dibutuhkan waktu 29 menit dari Hauptbahnhof (Central Railway Station) Dom Cathedral menggunakan Strasse-Bahn (light-railway) menuju Bhruel. Dari pos pemberhentian ini berjarak 25 menit menuju danau jikalau berjalan kaki. Bersepeda atau menikmati panorama dijalan setapak sama-sama menyenangkan. Bhruel merupakan kota kecil dengan sejuta pesona. Setiap hari Sabtu pagi sampai tengah hari ada pasar pekan, dimana terdapat beberapa mobil bak berukuran sedang menjajakan roti-roti yang baru saja keluar dari oven seperti pretzel khas german, baquette, croissant, sandwich ada juga yang berjualan doner kebab ala turkey. Potongan-potongan keju beraneka tekstur mulai dari yang agak keras seperti permigiano, yang lembut seperti emmental dan yang berbau menusuk hidung seperti brie dikerumuni pembeli.
Ada juga yang membuka stan pakaian musim gugur dengan beberapa model sepatu boots setinggi lutut.

Pasar pekan ini digelar dipelataran kota di depan supermarket besar ReWe. Dibagian depan supermarket ada stan bunga yang terdiri dari bunga di dalam pot serta bunga segar potong. Beberapa bulan lalu, ketika Darin hendak memenuhi undangan temannya untuk menghadiri brunch (kombinasi makan pagi dan siang, biasanya sekitar jam 10 sampai dengan jam 3 sore), ia membawa buah tangan berupa beberapa batang lili putih segar yang dibeli di stan supermarket. Pada awalnya, ia agak kebingungan untuk memilih bunga pertanda persahabatan.Beberapa pertanyaanpun dilontarkan kepada sang penjual bunga. Pertanyaan kikuk dengan nada kaku, membuat geli sang penjual bunga. Membawa buah tangan berupa bunga bukanlah hal yang biasa bagi Darin, hampir tidak pernah. Di tanah kelahirannya di pegunungan Ijen, orang-orang membawa buah-buahan dan nasi tumpeng sebagai buah tangan.

Pada kesempatan berikutnya, Darin sengaja membelokan sepedanya dan berhenti di depan ReWe untuk sekedar memenuhi rasa penasarannya terhadap bunga, terhadap sang penjual bunga tepatnya.

Sang penjual ternyata tersenyum sumringah dan mengingat dengan tepat nama Darin, ia ternyata mahasiswa di universitas di tempat Darin kuliah, namun beda fakultas. Setiap akhir pekan, pemuda berambut ikal panjang berwarna jagung ini bekerja sambilan di stan bunga Rewe.

Minggu berikutnya, stan bunga ini menambah satu lagi koleksi bunga yang teramat cantik. Hari itu Darin resmi memanggil Benjamin dengan sebutan Benji.

***
Insert song:
“The sound of your Hello
I have got Misty the moment you near.”
(Kenny G Feat. Gladys Knight)

#PelangiBukitKopiExtended #Chapter3 #phase32

🌸🌸🌸🌸
#PelangiBukitKopiExtended #Chapter3
#phase32

“Excuse me, toilet where is it?

“Toilet? You mean Lavatory, Sir? Since this is only for business class passenger, you shall use the other one. The closest one is next to seat number 24.”

Setibanya Pandu di depan lavatory, ada tulisan “oocupied” terpampang. Sambil menunggu, kakinya menghentak-hentak pelan, menahan rasa mual. Satu tangannya menutup mulutnya dengan handuk, sementara tangan kirinya memegang kantong plastik.

Dua menit, tiga menit, lima menit, akhirnya penantian Pandu berujung juga, karena tergesa-gesa tanpa sengaja ia menyenggol bahu penumpang yang baru keluar dari pintu lavatory. Secara bersamaan mereka meminta maaf.

“Entschuldigung, sind Sie okay?”

“Excuse me, I am sorry.”

Pandu tidak tahu pasti bahasa apa yang barusan dia dengar. Namun satu yang pasti yang Pandu belum bisa membaca, pemuda berperawakan eropa, berambut ikal panjang berwarna jagung itu akan menjadi bagian cerita dari masa depannya.

Ia bernama Benjamin, Darin memanggilnya Benji.

***

#PelangiBukitKopiExtended #Chapter3 #phase30-31

🌸🌸🌸🌸

#PelangiBukitKopiExtended
#Chapter3
#phase30-31

“Sir, we need your cooperation. We shall move you to business class so that we can assist to help you better. One of the passenger confims as a doctor. He will help you.”

Kochakorn mencoba berbicara dengan tenang. Namun erangan Dennis membuatnya gugup. Volumenya melebihi baling-baling sayap pesawat. Bocah dua tahunan yang sedang menangis tersedu-sedu terhenti sesaat mendengar frekuensi suara melebihi dirinya.

“And are you travelling alone?”

“No, we are in the group of 9 people.”

“Ok good. May I speak to the group leader?”

“I am, myself.”

“Ooh..I see.”

“Miss..you can speak to my goodfriend. Thats him.”

Dennis menunjuk Pandu yang berdiri di koridor. Wajahnya berkeringat.

“Sir, I need to..Sir are you allright?”

Pandu menyeka keringat yang jatuh diujung bibirnya.

“Yes.”

“You are sweating, arent you?”

“I am okay, please do something to him.”

“Okay, friend of yours Mr Dennis needs to get fast assistance. I notice that you and I believe your group are only on transit in Bangkok. I will write urgent letter to inform our flight representative to assist your friend once we land in Suvarnabhumi airport.”

“Yes, we are actually heading to Cambodia.

“Mhh..do you have any contact of your embassy?”

“Yes, I have.”

“Good then. Now, we shall wait for doctor’s advise after he checks on him.”

Seorang pramugara membantu Dennis berdiri menuju kabin business class. Dennis tidak bisa berdiri tegak, posisinya membungkuk, tangannya tak lepas memegangi perut tangan kanannya.

Pandu berjalan mengikuti mereka sambil membawa handuk. Dokter yang akan memeriksa Dennis sudah berada di kabin business class. Dari belakang perawakan dokter tersebut seperti orang Jepang atau Korea. Tinggi semampai, berkulit terang dan berkemeja putih lengan pendek.

“Doctor, Mr Dennis..”

“Yes..I will observe.”

Pandu berdiri dikoridor pintu kabin. Ia masih mengamati Dennis diperiksa.

“Did he throw up?”

“Yes, once.”

Sesaat setelah melakukan pemeriksaan fisik, dokterpun melemparkan beberapa pertanyaan kepada Pandu tanpa menoleh.

“He has high fever. If i press the stomach, the pain starts. As soon i release, it gains more pain.
I think it might be appendicitis.”

“Append..what doctor?”

Sejurus kemudian dokterpun menoleh untuk menjelaskan dengan bahasa sederhana.

“It is…ehh Pandu-san?”

“Hai..Yoshikawa-san.”

Seperti biasa, dunia lebih cepat berputar dari yang diperkirakan. Pertemuan tak terduga antara Pandu dan project manager tempat Makino bekerja dulu di Samboja, membuat keringat Pandu bergulir deras.

“Apa kabar Pandu-san? Oh Mr Dennis, saya pikir dia ada appendicitis. Usus buntu.”

Sambil melirik jam di pergelangan tangan kanannya, Yoshikawa-san menimang-nimang tindakan yang harus dilakukan.

“I think we are an half way to go to Bangkok. I need you to bring me airplane’s medical kit. We need to reduce his pain for temporary.”

Kochakorn segera menuju tempat penyimpanan medical kit yang terletak tepat diatas koridor pintu emergency.

“Here please.”

Yoshikawa-san membuka medical kit yang berisi stethoscope dan beberapa stok obat seperti epinephrine, Benadryl, atropine, Compazine, nitro, aspirin, ibuprofen dan juga alat intubasi serta akses intravenous.

“Nothing much that I can do. In the meantime he needs to take this painkiller and soon we land I suggest you to seek hospital immediately. He needs urgent operation.”

Mendengar kata operasi, Dennis meraung keras. Handuk yang dibawa Pandu digunakan untuk menyeka keringatnya.

“Pandu-san, mau kemana? What coincidence we meet on board.”

“Ratanakiri, Cambodia.”

“Ahh..that health project?”

“Yes.”

“Ohh..seems we have second coincidence. I am heading to Cambodia too.”

“Really?”

“Our NGO takes part as well and Makino-san will also be joining. Do you remember her?”

“Hai..”

“But she will be coming soon after her Marathon Project in Kigali finish.”

“Ahh I see.”

“Okay, Pandu-san I will be back in my seat, please keep your eye on him. Ring me anytime.”

“Hai..Arigato gozaimasu.”

Pandu mengangsur kakinya kearah tempat duduk disamping Dennis. Royal Silk Class ini hanya berisikan tiga penumpang. Dua diantaranya sudah terbang ribuan mil, kelihatan dari Frequent Flier Gold Lapel pin yang disematkan di kerah panjang trench-coat pastel mereka. Satunya lagi sibuk di depan notebook, dengan bukaan layar penuh koneksi video call Docomo bisa terlihat dengan jelas dari arah tempat duduk Pandu. Semua tulisan dalam huruf kanji jepang. Minuman selamat datang Signature “Violet Breeze” jusnya masih setengah penuh tak tersentuh. Sepertinya dia tidak haus.

Pandu duduk tidak tenang, tubuhnya terasa gemetar, bolak-balik ia mengurut keningnya seolah sakit kepala. Dennis masih berceracau pelan. Wajahnya memerah karena demam. Satu hal yang membuatnya tersenyum kecut, yakni cita-citanya menempati kabin business class tercapai.

“Pandu, harusnya Kau berterimakasih padaku. Karena aku kita bisa duduk disini.”

Keduanyapun tertawa tipis.

“Dennis, usus buntumu..mhh harus segera di operasi.”

“Yeah..mungkin lansung di Bangkok. Mungkin juga aku tak bisa ikut kalian ke Ratanakiri.”

“Ha?”

“Kita lihat nanti. Bagaimanapun juga kau harus pergi walau tanpa aku. Cita-citamu tak boleh terhalang karena aku. Mengerti?”

“Ha?”

Pandu membuka selimut dan membalutkannya kebadan Dennis. Ia kemudian memesan dua teh hangat serta satu selimut tambahan untuk dirinya. Kabin Royal Silk Class ini terasa jauh lebih dingin dari kelas ekonomi. Begitu anggun, membuatnya tak nyaman.

“Anoo…Dou natte iruno?”
(What’s going on?)
“Dou shita no?”
(What happened)
“……….Sapporo? Jishin?”
(Earthquake)

Pandu mencuri dengar pembicaraan penumpang yang duduk diseberangnya. Tidak begitu jelas, karena percakapan dilakukan dalam bahasa jepang. Hanya bisa ditangkap sepotong-sepotong dari ujung kalimatnya.

“Hah, kenapa aku ini. Kenapa dia yang panik, aku juga ikut panik. Ada apa di Sapporo? Gempa? Parahkah? Ah tidak-tidak, tidak ada apa-apa. Dia di Hakodate bukan di Sapporo. Tapi kenapa laki-laki itu mulai terisak-isak?”

Pandu berbisik sendiri sambil tetap mengamati gelagat penumpang laki-laki berbahasa jepang itu. Jari tangannya mengetuk-ngetuk sandaran kursi. Hatinya gundah. Galau.

***

Happy 2nd Birthday Maximilian

Thank you for coming Friends!

We were very delighted that you came and enjoyed the second Birthday party of our son Maximilian
at Pirates Bay recently 🙂

Maxi himself was starting to have fun of the last quarter of his party.
Because he was still sleeping when I brought him to the party. Oh my..

Buy anyway, the weather was so nice, breezy air and the sound of the soft wave were such good company.

To our baby bear, we are wishing you a very wonderful day, stay healthy, more in return and may Allah always be in every step of your life.

We love you to the every inch of the universe!

Happy Birthday baby!

Wir lieben dir!
Ai shi teru!
Saranghae!

love,
VB